Indonesia menghasilkan lebih dari 7 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, dengan sekitar 63% di antaranya masih belum dikelola dengan baik.
Masalahnya bukan hanya pada besarnya volume—melainkan juga kurangnya infrastruktur yang memadai untuk menanganinya.
Bank Sampah Binaan SKI didirikan untuk memperkuat upaya kolaborasi antara masyarakat dan SKI. Melalui pendekatan waste-to-value serta edukasi dan insentif ekonomi, program ini mampu menggerakkan komunitas untuk peduli dan bertindak.
Perempuan memainkan peran penting dalam program ini; mereka diberdayakan menjadi agen perubahan di keluarga dan lingkungan mereka.
Melalui program Bank Sampah Binaan SKI, SKI membantu komunitas mengadopsi kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih baik dengan membentuk bank sampah. Inisiatif ini memberdayakan warga lokal untuk secara aktif memilah dan mendaur ulang sampah plastik mereka, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dengan mendorong perubahann perilaku dari tingkat komunitas lokal (grassroots), program ini membangun dasar bagi praktik pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Seiring perubahan perilaku tersebut, sampah plastik yang telah dipilah kemudian disetorkan ke bank sampah dan diolah kembali oleh SKI menjadi material bangunan berkelanjutan.
Konversi limbah menjadi sumber daya yang bernilai ini tidak hanya mengurangi volume plastik yang masuk ke TPA dan badan air, tetapi juga mendorong perkembangan ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Dengan demikian, program ini menciptakan peluang pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat.
Menghadapi ancaman peningkatan polusi plastik secara global, kebutuhan akan solusi sirkular yang dapat diperluas skalanya menjadi semakin mendesak. Bank Sampah Binaan SKI hadir sebagai bukti bahwa ketika masyarakat, sektor publik, swasta, dan lembaga berjalan bersama, perubahan yang menyentuh akar permasalahan dapat terjadi.
operasional
Ibu Virie